Ok, jujur saja. Sebenarnya saya tidak berniat untuk menghadiri acara pembukaan ini, maksud saya mungkin terdengar agak konyol, saya berniat untuk menikmati pertunjukkan tari hip-hop yang diadakan di gedung yang sama. Tapi begitu saya menginjakkan kaki di gedung dan bertanya ke salah satu panitia, ternyata pertunjukkan tari itu sudah dilaksanakan semalam alias kemarin, How goddamn come? baru sekali ini saya salah menafsirkan tanggal acara. Olalala, tak apalah, tiada rotan gobind punjabi, pameran lukisan juga layak dinikmati, meski saya bukan dari kalangan seni atau praktisinya, dan untungnya dibuka untuk umum, jadi tak ada ruginya kan, saya bisa banyak belajar. Kesan pertama ketika melihat acara dari luar adalah, siapa nih yang nikahan di gedung kayak gini karena banyaknya rangkaian bunga yang berada didepan. ooo ternyata pembukaan pameran… Segera setelah sign up guest book dan mendapat katalog serta majalah gratis (kebetulan dua orang yang jaga guest book adalah teman saya), saya segera action mengambil foto-foto yang diperlukan, meski saya juga bukan fotografer DSLR yang pro, but at least, saya punya tujuan dan ingin memiliki bukti bahwa saya ada disitu gitu. Kursi untuk para pengunjung masih banyak yang lowong, hanya beberapa orang yang ada disitu. Saya datang pukul 7 malam, kalo orang jawa bilang mruput. Diatas panggung kecil sudah ada band top40-an yang membawakan mulan jameela hingga the police…cukup menghibur dengan duo vokal cewek yang seronok…
Mon Decor sendiri adalah sebuah galeri seni yang berada di Jakarta. Acara ini dimaksudkan sebagai ajang mencari potensi dan kualitas terbaik dari seniman yang berproses kreatif di Indonesia, serta mengangkat seni kontemporer yang beberapa tahun terakhir ini tengah naik daun. Perhelatan ini ini diseleksi oleh empat orang juri yang memiliki kompetensi kuat serta berkontribusi banyak terhadap dunia seni Indonesia khususnya seni kontemporer, seperti Jim Supangkat (kurator seni), Dr. Agus Burhan, Ivan Sugito, dan Kuss Indarto. Dari 700 karya lukis yang masuk kemudian diseleksi, total ada 50 karya lukisan yang dipamerkan (30 lukisan karya seniman terseleksi dan 20 diantaranya adalah karya seniman undangan). Acara yang akan digelar dari tanggal 31 Mei hingga 5 Juni di Taman Budaya Indonesia juga bermaksud merepresentasikan konsep dibalik karya visual para seniman yang berpartisipasi.
Acara dibuka oleh sambutan Direktur Festival, Martha Gunawan, yang dilanjut oleh Direktur Taman Budaya Yogyakarta. Sempat juga diselingi oleh pertunjukkan seni pantomim yang saya lupa nama aktornya. Lalu sambutan dari Bapak Jim Supangkat yang tidak terlalu terlalu terdengar karena mic-nya trouble, jadi saya tidak paham dengan apa yang dibicarakan beliau. Tak lama kemudian ada Dr. George Junus Aditjondro yang didaulat untuk memberi sambutan terakhir sekaligus diberi kehormatan untuk merobek gerbang kertas ruang pameran, padahal paginya beliau baru saja menghadiri bedah buku di kampus saya, dan malam sebelumnya beliau masih berada di sumatera bagian utara. Energetic, huh?!?!. Beliau tak hanya seorang peneliti/sosiolog kritis dan “berbahaya” tetapi juga seorang penikmat seni rupanya, dengan rambut sebahu dan kacamata bulatnya, membuat beliau mirip dengan Ozzy Osbourne, tetapi sekilas juga mirip Tony Forresta-nya Municipal Waste, tapi tanpa bandana, sebagai gantinya, beliau memakai scarf yang melingkar dileher, cukup fashionable juga bagi seorang Doktor. Sempat juga beliau melempar candaan-candaan berbau politis dan menyamakan salah satu karya peserta dengan demo kenaikan harga bbm, tetapi yang selalu khas dari beliau, candaan-candaan tersebut seperti satir dan sindiran, hingga beliau selalu menjadi favorit para akitvis atau kaum kiri mungkin. Selepas prosesi pembukaan, tak ayal pengunjung langsung menyerbu masuk untuk menikmati, sekadar melihat-lihat (termasuk saya), mengapresiasi, atau sekedar menjaga eksistensi.
Yah, sekali-kali liat pembukaan pameran juga mengasyikkan, dapat bacaan gratis, snack gratis, dan crowd yang calm, nambah pengalaman lahhh. Lagian saya juga jengah, jet-lag, dan pengen reses bentar dari dunia musik ngak ngik ngok… Jadi terkadang salah datang kesuatu acara bukan berarti masalah, coba lihat dulu dan nikmati mungkin saja berguna buat kamu…

TAG LINE

TO EARLY,,,

APPRECIATING BY ENTERING OR APPRECIATING BY WATCHING?

MANIFESTO




THE ART, APPEARS COURTESY OF MON DECOR PAINTING FEST 2008

SPONGEBOB KILLS, INDEED… “RALAT OF MARAT” ACRYLIC ON CANVAS, COURTESY OF RIONO TANGGUL NT
2 responses so far ↓
opi // June 3, 2008 at 11:22 pm |
acara ini aku dateng. kok lagi-lagi gak ketemu ya..
light years away // June 4, 2008 at 10:57 am |
padahal sorenya ditanya, “ntar malam kamu mau pergi ya?”, jawabnya, “ngga”….
ya pantes aja ga ketemu…