To give a little education and a more comprehensive way of informing, i use Indonesian so that kids around here can easily understand it. Besides, there are already a lot of writings dealing with Doom music written in English, but on the contrary there isn’t a single article written in Indonesian.
THE RISE OF CHILDREN OF DOOM
Part. I
oleh: Adi Renaldi
Seandainya saja Tony Iommi tidak mengalami kecelakaan pada jarinya dan memakai bidal, mungkin saja riff-riff downtuned itu tidak akan pernah tercipta. Mungkin pada era tersebut downtuned atau drop-d belum awam bagi para musisi. Dan Iommi dengan sangat cerdas mengomposisikan riff-riff jahat itu dengan sangat sempurna. Ia sangat terpengaruh oleh Blues mentah dan psychedelic dalam meramu serangan riff-riff nya. Sehingga Black Sabbath tidak saja menjadi progenitor dan blueprint bagi ratusan musisi metal, tapi juga menjadi yang ter-inovatif dimasanya. Album-album awal seperti “Paranoid”, “Black Sabbath”, dan “Master of Reality” menjadi tonggak fundamental dan memberi pengaruh kuat lahirnya genre DOOM dan merepresentasikan sisi tergelap manusia. Ciri khas dari genre ini adalah pada pola permainan/teknik serta sound yang cenderung berat, down-tempo, gloomy, serta bernafas dalam ranah psychedelic dengan lirik-lirik berbau transcendental, okultisme, dan terkadang religius.
pentagram
Pada akhir 70an modifikasi musik rock n roll terutama yang dibidani oleh demonic quartet, Black Sabbath, dan Blue Cheers mulai mencuat. Terutama setelah munculnya Pentagram dengan albumnya “Self-Titled”, Candlemass “Epicus Doomicus Metallicus” yang berasal dari Swedia, dan TROUBLE yang terbentuk pada tahun 1979 dimotori oleh Eric Wagner merilis debut album “Psalm 9”. Pentagram disebut-sebut sebagai cucu sejati dari Black Sabbath yang setia hingga kini dan mendapat gelar primitif nan tradisional. Kemudian setelah efek dari Black Sabbath berdiaspora hingga ke Amerika, band seperti The Obsessed pun muncul pada awal 80an di Washington DC, yang dimotori oleh Scott “Wino” Weinrich. Wino, seorang redneck metalhead gondrong asal Maryland yang doyan meth dan gemar membawa pisau lipat karatan disakunya bergaul dengan kalangan hardcore-punk DC dan menjadi sosok yang disegani di seputaran scene tersebut meski genre yang mereka usung berbeda. The Obsessed sempat bermain di gig-gig hardcore meski kadang hanya untuk sekedar iseng. The Obessed sempat mengeluarkan indie 7” dan muncul dalam kompilasi “Metal Massacre 6” di tahun 84.
TROUBLE
Setelah genre speed-metal meledak, Wino pindah ke LA untuk bergabung dengan St.Vitus menggantikan Scott Reager sebagai vokalis. St.Vitus adalah premier American doom akhir 70an dan kental pengaruh atmosfer gelap Black Sabbath dan keagresifan punk rock Black Flag, sebuah perpaduan langka pada waktu itu dimana band-band saat itu memainkan riff-riff tercepat dan teragresif dalam nuansa punk rock dan thrash. Mereka merilis ”Thirsty and Miserable ep” (sebuah daur ulang lagu karya Black Flag) dan “Born too Late” dibawah label SST Records milik Greg Ginn pada tahun 1986. Ya, mereka memang bergabung dengan sebuah label yang notabene adalah label hardcore-punk (Henry Rollins tergila-gila pada Vitus dan membujuk Ginn untuk mengontrak mereka). St.Vitus membangun soundnya dengan raw, primitif, dan merepresentasikan Doom dalam kaidah sesungguhnya. Mempengaruhi band-band pada masanya hingga sekarang, seperti Soundgarden, Down, C.O.C., Eyehategod, Crowbar, dan Grief.
Saint Vitus
Setelah merilis “Live” album pada tahun 1991, Wino memilih keluar dan me-reform The Obsessed, lalu digantikan oleh Christian Linderson aka Lord Chritus dari Count Raven. Linderson tidak bertahan lama di band ini, dan pada tahun 1994 St.Vitus kembali dengan vokalis lama mereka Scott Reagers dan merilis “Die Healing” dan sekaligus menjadi album terakhir band ini. Setelah beberapa lama vakum ( kecuali Wino yang berperan aktif pasca St.Vitus ), pada July, 2003, the classic Born Too Late line-up (Weinrich, Chandler, Adams, Acosta) bermain disebuah gig di Double Door, Chicago dan dirilis dalam format DVD, mereka juga merilis ulang album “V” dan “LIVE” dibawah label Southern Lord. Setelah keluar dari St.Vitus, tercatat Wino sempat membentuk band-band seperti The Hidden Hand, Spirit Caravan, dan Place of Skulls, sebelum akhirnya ia memilih solo karir dibawah namanya sendiri “Wino” dan merilis album “Punctuated Equilibrium” pada awal 2009 dibawah bendera Southern Lord.
to be continue…

1 response so far ↓
Dr.DOOM // July 6, 2009 at 4:34 pm |
sangat menarik….